Sinar matahari menyelinap di antara dedaunan lebat, memberikan sedikit penerangan di tengah hutan yang terasa seperti labirin. Suara burung dan serangga yang tadinya menemani perjalanan Lala dan kakeknya, Mochi, kini menghilang digantikan keheningan yang menegangkan. Lala dan Mochi berjalan dengan hati-hati, tubuh mereka basah setelah lama bersembunyi di sungai.

“Hutan ini sangat berbahaya kakek, kita sudah beberapa kali hampir menjadi makanan makhluk aneh.” Kata Lala dengan perasaan khawatir. “Apakah kita seharusnya tetap bersama Kane dan timnya?”

Mochi menggelengkan kepalanya. “Jika tetap bersama mereka, kita bisa digunakan sebagai alat tukar oleh mereka agar ayahmu mau memenuhi keinginan mereka. Ingat, ayahmu memilih melarikan diri bersama penelitiannya karena tidak ingin hasil penelitiannya di gunakan untuk kejahatan.”

“Semua upaya ayahmu akan menjadi sia-sia jika hasil penelitian itu tetap jatuh ke tangan mereka.” Kata Mochi sambil mengambil potongan kayu dan menjadikannya tongkat untuk mereka berdua.

“Kakek benar, kita tidak boleh membiarkan mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan, jika perlu kita minta ayah untuk menghancurkannya.” Kata Lala dengan geram. "Tapi ini aneh, Kakek, apa kita benar-benar berada di jalur yang benar?" gumam Lala dengan nada cemas sambil memegang tongkat kayunya lebih erat.

Mochi, yang berusaha tetap tenang meski lelah, menjawab, "Aku tidak tahu pasti, Lala. Tapi kita tidak boleh berhenti. Kita akan menemukan ayahmu, cepat atau lambat. Kuatkan hatimu dan teruslah maju."

Lala mendesah frustasi. Dia memandang sekeliling, mencoba mencari petunjuk, tetapi semuanya terlihat sama—hutan gelap tanpa akhir. "Aku sudah tidak tahu lagi ke mana kita harus pergi. Semua arah terasa salah."

Mochi menghentikan langkahnya dan memegang bahu Lala. "Dengar, Lala. Aku tahu ini sulit. Tapi kita tidak boleh menyerah. Ayahmu mungkin sedang menunggu kita. Kita hanya perlu bertahan. Aku percaya kepada kemampuan dan kepintaranmu, pasti kamu bisa menemukan tempat yang kita tuju. Yang penting sekarang kamu harus tenang dan terus maju."

Lala menatap kakeknya, mencoba menarik kekuatan dari ketenangan pria tua itu. Dia mengangguk perlahan. "Baik, Kek. Kita lanjutkan."

Mochi menghentikan langkahnya dan memandang sekeliling. "Diam di tempat, Lala. Jangan bergerak!" Katanya dengan nada pelan tapi tegas.

Lala langsung mematuhi, tetapi rasa gugup menjalar di tubuhnya. Matanya menelusuri pepohonan disekitarnya, mencari tanda bahaya.

Dan saat itulah dia melihatnya.

Dari balik semak-semak, sepasang mata merah menyala menatap mereka dengan ganas. Makhluk mutasi mirip serigala itu kembali, tubuhnya yang besar dengan bulu hitam yang terlihat seperti logam dan taring yang bersinar tajam. Napasnya berat dan geramannya bergema, membuat bulu kuduk berdiri.

"Kakek… dia menemukan kita lagi," bisik Lala dengan suara gemetar. Rasa lelah karena bersembunyi lama di sungai dan rasa lapar membuat tubuhnya terasa lebih lemah.

"Mahkluk ini pintar, sepertinya dia sengaja menunggu kita di sini." Mochi mengetuk tongkat kayu yang dia ambil saat perjalanan ke tanah, menatap makhluk itu tanpa rasa takut. "Bersiaplah, Lala. Kita tidak bisa melarikan diri. Posisi kita tidak menguntungkan. Kita tidak punya pilihan selain melawan."

Lala dan Mochi bersiap siaga, mata mereka memandang tajam ke arah mahkluk mutasi berusaha mencari titik lemah makhluk itu. Dari bentuk fisiknya, Mochi memperkirakan makhluk ini memiliki kecepatan dan kekuatan yang luar biasa, mereka tidak akan bisa menghadapinya secara langsung.

Makhluk itu menatap Lala dan Mochi dengan mata merahnya, lalu tiba-tiba dia bergerak menyerang terlebih dahulu dan gerakannya jauh lebih cepat daripada yang Lala dan Mochi duga. Dengan lompatan besar, ia menyerang langsung ke arah Mochi, cakarnya mengarah ke kepala. Mochi dengan cepat merunduk dan memutar tubuh, membalas dengan ayunan tongkat kayunya ke tulang rusuk makhluk itu.

Suara keras terdengar, dan tongkat kayunya patah, tetapi makhluk itu tidak menunjukkan rasa sakit sedikit pun. Sebaliknya, ia berbalik dan mencoba menggigit Mochi.

Mochi melompat ke samping dan mengambil potongan kayu lain untuk dijadikan senjata,

"Tubuh makhluk ini sangat keras. Aku harus menemukan titik lemahnya segera." Batin Mochi.

"Lala, sekarang!" teriak Mochi saat melihat kesempatan Makhluk itu membelakangi Lala.

Lala melompat ke arah makhluk itu, menggunakan tongkat kayunya untuk menghantam punggung makhluk tersebut. Lala mengerahkan seluruh kekuatannya pada pukulan tersebut, namun, seperti sebelumnya, serangannya hanya seperti angin, dengan menyisakan bagian ujung tongkatnya yang hancur.

Makhluk itu marah dan membalikkan tubuhnya dengan cakarnya menyapu tanah, menciptakan debu dan daun yang berhamburan. Lala melompat mundur dengan lincah, menghindari serangan itu dengan selisih beberapa inci.

"Kakek, tubuhnya sangat kuat seperti baja. Kita harus menyerang titik lemahnya!" seru Lala sambil mundur ke samping.

"Kalau begitu temukan! Aku sibuk menahan dia!" balas Mochi sambil memutar tongkatnya untuk menangkis cakaran makhluk itu yang hampir menghantam wajahnya.

Makhluk itu terus menyerang tanpa henti. Setiap serangannya cepat dan kuat, memaksa Lala dan Mochi untuk bergerak tanpa henti. Mereka menggunakan keahlian bela diri mereka untuk menghindar, melompat, dan memanfaatkan benda-benda di sekitar untuk menyerang balik.

Lala melihat akar besar yang menonjol dari tanah. Dengan cepat, dia mengambil batang kayu lainnya sebagai tongkat dan melompat ke atas akar itu. Lala menunggu waktu yang tepat sebelum melompat ke arah kepala makhluk itu. Dia mencoba menusukkan ujung tongkatnya ke salah satu mata makhluk itu, tetapi makhluk itu dengan refleks luar biasa memutar kepalanya, menggigit tongkat Lala hingga patah.

Lala terhuyung mundur, dan makhluk itu menyerangnya dengan cakarnya. Mochi melompat di antara mereka, menggunakan tongkatnya untuk menahan serangan itu.

"Lala, jangan terlalu gegabah!" bentak Mochi sambil mendorong makhluk itu mundur.

"Baik Kek, Aku mencoba!" balas Lala, napasnya mulai berat.

Mochi memutar tongkatnya, memukul dahan pohon di atas mereka sehingga dahan itu jatuh tepat di kepala makhluk. Namun, dahan itu hanya membuat makhluk itu semakin marah.

"Dia terlalu kuat dan cepat, Kek!" seru Lala.

"Gunakan segalanya yang bisa kau temukan!" Mochi membalas sambil melompat ke sisi kiri makhluk itu, memukul kaki belakangnya dengan tongkat.

Lala memungut batu besar dari tanah dan melemparkannya ke kepala makhluk itu. Batu itu menghantam tepat di dahinya, tetapi hanya membuat makhluk itu berhenti sesaat sebelum menyerang kembali.

Makhluk itu melompat ke arah Mochi, menjatuhkan pria tua itu ke tanah. Namun, sebelum makhluk itu bisa menggigit, Mochi mendorong ujung tongkatnya ke rahang makhluk itu, memaksa mulutnya terbuka.

"Lala, lakukan sesuatu!" serunya.

Lala memanfaatkan momentum untuk menyerang dari belakang, memukul lutut makhluk itu dengan batang kayu yang ada di sekitarnya. Makhluk itu kehilangan keseimbangan sesaat, memberi waktu bagi Mochi untuk bangkit.

Pertarungan itu semakin lama semakin menguras tenaga. Napas Lala dan Mochi mulai tersengal-sengal. Serangan mereka menjadi lebih lambat, sementara makhluk itu masih bergerak dengan kekuatan penuh.

"Kek… aku tidak tahu apakah kita bisa menang," gumam Lala, tangannya gemetar saat memegang batang kayu yang sebelumnya di gunakan untuk menyerang makhluk itu.

"Kita tidak boleh menyerah," kata Mochi dengan suara tegas, meskipun wajahnya sudah dipenuhi keringat.

Makhluk itu, melihat kelemahan mereka, menyerang dengan lebih ganas. Lala mencoba menghindar, tetapi cakarnya berhasil menggores pundaknya, membuat darah segar mengalir.

"Lala!" seru Mochi.

"Aku baik-baik saja, Kek," kata Lala, meski wajahnya menunjukkan rasa sakit.

Mochi mencoba melindungi cucunya, tetapi makhluk itu menyerang dengan kecepatan luar biasa, mendorong pria tua itu ke tanah. Tongkatnya terlepas dari tangannya. Makhluk itu mengangkat cakarnya tinggi, siap memberikan serangan terakhir.

Sebelum cakarnya menghantam Mochi, sebuah suara keras terdengar.

Makhluk itu terlempar ke samping, berguling beberapa kali sebelum berhenti. Sosok pria dengan rambut panjang dan pakaian kulit hewan muncul dari balik pohon. Pria itu berdiri tegap, menatap makhluk itu dengan tajam.

"Siapa dia?" gumam Lala, matanya melebar, memandang sosok pria di depannya yang terlihat memiliki tubuh yang tampak biasa saja tetapi berhasil menyelamatkan kakeknya dan mampu membuat makluk itu terlempar.


